Kampar, (CMP) – Sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT menjelang masa panen padi, masyarakat Desa Pulau Birandang, Kecamatan Kampa, Kabupaten Kampar kembali melaksanakan tradisi Ma’aghak Suwek, Selasa (28/10/2025). Acara yang digelar di lapangan sepak bola desa tersebut berlangsung meriah dan khidmat, dihadiri berbagai tokoh penting daerah.
Hadir dalam kegiatan ini di antaranya Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Wakil Bupati Kampar yang mewakili Bupati Kampar, Anggota DPRD Provinsi Riau Komisi III, Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Riau, Camat Kampa, serta Kapolsek Tambang.
Kepala Desa Pulau Birandang, Tomas Renaldo, dalam wawancaranya bersama Channel Merah Putih menjelaskan, tradisi Ma’aghak Suwek telah diwariskan secara turun-temurun sejak masa penjajahan Belanda. Tradisi ini merupakan simbol rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas hasil pertanian yang subur dan panen yang melimpah.
“Ma’aghak Suwek ini sudah dilakukan oleh nenek moyang kami sejak dahulu. Melalui tradisi ini, masyarakat berharap sawah mereka diberkahi dan hasil panen melimpah,” ujar Tomas.
Dalam pelaksanaannya, Ma’aghak Suwek dimulai dengan arak-arakan membawa Al-Qur’an yang diletakkan di bagian depan rombongan, diiringi lantunan zikir gubano sambil mengelilingi area persawahan warga. Setelah itu, rombongan berhenti di pemakaman umum desa untuk berdoa bagi para leluhur. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan makan bersama seluruh masyarakat dan para undangan di lokasi acara.
Menurut Tomas, filosofi Ma’aghak Suwek mengandung nilai syukur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur. Sejak dirinya menjabat sebagai kepala desa pada tahun 2020, kegiatan ini telah dilaksanakan empat kali, kecuali pada tahun 2021 dan 2022 karena pandemi COVID-19.
“Pemerintah Desa Pulau Birandang selalu memberikan dukungan penuh terhadap pelestarian tradisi ini. Selain menjadi warisan budaya, Ma’aghak Suwek juga memperkuat semangat gotong royong dan mempererat silaturahmi antarwarga,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa acara ini berdampak positif bagi masyarakat, terutama karena menjadi momentum “pulang basamo” bagi warga perantauan yang kembali ke kampung halaman untuk ikut meramaikan kegiatan.
Tomas berharap agar ke depan, pemerintah daerah dan provinsi dapat memberikan perhatian lebih terhadap kegiatan ini, termasuk melalui dukungan anggaran APBD Kampar dan Provinsi Riau. Dengan begitu, Ma’aghak Suwek dapat dikembangkan menjadi agenda tahunan pariwisata daerah.
“Kami ingin tradisi ini tidak hanya dikenal di Kampar, tetapi juga menjadi bagian dari kalender wisata budaya Riau,” harap Tomas.
Menutup wawancaranya, Tomas berpesan kepada generasi muda agar terus melestarikan Ma’aghak Suwek sebagai identitas dan kebanggaan desa.
“Sebagai kepala desa, saya ingin anak-anak muda mengetahui dan meneruskan tradisi ini agar tidak hilang ditelan waktu. Dengan semangat Ma’aghak Suwek, Desa Pulau Birandang di usia ke-48 ini diharapkan dapat terus tumbuh berseri, bangkit bersinergi, dan menjadi bagian dari Kampar yang bermarwah,” pungkasnya.
Penulis: Roy Basf
Editor: Rahman

