Kampar (CMP) – Suasana di SD Negeri 021 Desa Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, mendadak ramai pada Rabu siang (12/11/2025). Ratusan wali murid, yang sebagian besar merupakan ibu-ibu, menggelar aksi damai di lingkungan sekolah. Mereka menuntut pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar untuk mengevaluasi kinerja kepala sekolah serta dua tenaga pendidik honorer, masing-masing bernama Yon Hendri dan Reza Arya Putra.
Dalam aksi tersebut, para peserta membawa sejumlah poster bertuliskan tuntutan seperti:
“Nonaktifkan Yon Hendri dan Reza Arya Putra”
“Kami Tidak Menerima Tenaga Pendidik yang Arogan dan Tidak Berbasic Pendidik”
Sejumlah orang tua menilai, dua guru tersebut bersikap arogan dan sering memarahi siswa di dalam kelas. Hal itu dianggap tidak mencerminkan perilaku seorang pendidik yang baik.
“Kami hanya ingin anak-anak belajar dengan tenang tanpa dimarahi. Kalau anak takut ke sekolah, bagaimana mereka mau semangat belajar?” ujar salah seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya.
Selain memprotes sikap guru, massa juga menyoroti dugaan adanya praktik pungutan liar di lingkungan sekolah. Beberapa orang tua mengaku adanya pemotongan dana Program Indonesia Pintar (PIP) antara Rp. 50 ribu hingga Rp. 100 ribu per siswa, serta perbedaan harga pembelian seragam siswa baru yang disebut mencapai Rp. 1 juta hingga Rp. 3 juta. Hingga kini, sebagian seragam tersebut dilaporkan belum dibagikan kepada siswa.
Aksi yang berlangsung sekitar dua jam itu berjalan tertib dan mendapat pengamanan dari pihak Polsek Tambang yang dipimpin langsung Kapolsek AKP Aulia Rahman. Para wali murid berharap aspirasi mereka didengar langsung oleh pihak pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan Kampar.
Sebelumnya, salah satu guru yang turut diprotes, Yon Hendri, sempat menjadi sorotan publik setelah videonya viral di media sosial. Dalam video tersebut, terlihat dirinya membanting nasi kotak di lingkungan sekolah. Kejadian itu disebut terjadi pada Senin (10/11/2025).
Menanggapi hal itu, Yon Hendri telah memberikan klarifikasi. Ia menyebut tindakan spontan tersebut terjadi karena tekanan situasi dari rekan guru yang mendesaknya segera membagikan nasi kepada siswa.
“Itu bukan nasi dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), tapi bingkisan dari Dinas Pendidikan seusai kegiatan sosialisasi anti-bullying bersama Kejaksaan Negeri Kampar,” ujarnya menjelaskan.
Insiden itu menimbulkan beragam reaksi dari masyarakat dan warganet. Sebagian menilai tindakan tersebut tidak pantas dilakukan oleh tenaga pendidik, sementara lainnya menilai tekanan dan beban kerja guru honorer bisa menjadi faktor pemicu emosional di lingkungan kerja.
Pemerintah daerah diminta segera turun tangan untuk menindaklanjuti persoalan ini secara adil dan transparan, guna menjaga kondusivitas proses belajar-mengajar di SDN 021 Tarai Bangun.
Penulis: Roy Basf
Editor: Rahman

