22 Oktober setiap tahunnya sudah menjadi hari besar nasional sebagai hari Santri, ini sebagai bentuk pengakuan dan penghargaan negara kepada para santri di Indonesia.
Hari Santri bukan sekadar peringatan sejarah, tapi momentum refleksi. Di tengah gempuran teknologi dan derasnya arus informasi, santri dituntut untuk tampil percaya diri—bukan hanya kuat secara akidah, tapi juga adaptif dan cerdas digital.
Santri masa kini harus siap menghadapi tantangan zaman. Melek teknologi, memahami isu global, hingga bisa menyuarakan kebenaran dengan cara yang damai, santun, dan berbobot. Kritik dari masyarakat adalah hal yang wajar. Tapi santri harus mampu menjawabnya dengan karya, bukan reaksi berlebihan.
Di sisi lain, pesantren sebagai institusi pendidikan juga tak luput dari sorotan. Beberapa kasus kekerasan yang muncul, meskipun hanya segelintir, menjadi ujian besar.
Penggerogotan Pesantren memang banyak berawal dari dalam, dimana oknum yang berulah dan manajemen yang tradisional membuat pesantren juga digerus. Maka pelemahan pesantren berlangsung dari dalam juga.
Pesantren harus berani terbuka, melakukan evaluasi, dan menunjukkan bahwa mayoritas pondok tetap menjadi tempat aman, damai, dan penuh kasih untuk menuntut ilmu.
Santri dan pesantren kini dituntut tidak hanya menjaga nilai, tapi juga menjadi bagian dari solusi zaman. Menjawab perubahan tanpa kehilangan akar. Menerangi masyarakat lewat ilmu dan akhlak, bukan hanya ceramah dan simbolik.
Apapun itu, selamat hari Santri
Penulis: Rina Hasan
Editor: Rahman
gambar: Kementrian Agama RI

